Jakarta, swarakeadilanbersatu.com – Banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—selama lebih dari satu pekan terakhir terus menimbulkan dampak besar. Selain jumlah korban jiwa yang terus meningkat, kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik juga semakin meluas.
Menurut laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (4/12/2025), sebanyak 776 orang dilaporkan meninggal dunia dan 564 warga masih hilang. Selain itu, 2.600 orang mengalami luka-luka akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak akhir November 2025.
Dari 50 kabupaten/kota yang terdampak, kerusakan rumah mencapai 10.400 unit. Bencana ini juga merusak 354 fasilitas umum, 132 rumah ibadah, sembilan fasilitas kesehatan, serta 100 gedung dan perkantoran. Pada sektor pendidikan, 213 sekolah mengalami kerusakan, sementara 295 jembatan terdampak dan sebagian besar tidak dapat dilalui.
Di antara tiga provinsi tersebut, Sumatera Utara mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, yaitu 299 orang. Hujan dengan intensitas ekstrem, luasnya area bencana, serta banyaknya permukiman di sepanjang daerah aliran sungai membuat kerusakan di wilayah ini paling besar.
Aceh berada di posisi berikutnya dengan 277 korban meninggal, disusul Sumatera Barat dengan 200 korban jiwa. Ketiga provinsi mengalami banjir bandang dan longsor hampir bersamaan setelah curah hujan tinggi mengguyur kawasan Sumatera bagian utara dalam waktu relatif berdekatan.
Jika ditinjau dari kabupaten/kota, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadi daerah dengan korban meninggal paling banyak, yakni 147 orang. Banjir bandang yang membawa material kayu dan lumpur dalam volume besar membuat banyak warga tidak sempat mengungsi.
Di posisi kedua, Aceh Utara mencatat 112 korban meninggal. Topografi daerah yang dipengaruhi banyak aliran sungai menyebabkan arus banjir bergerak cepat menghantam permukiman.
Sementara itu, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, melaporkan 86 korban meninggal. Sejumlah jembatan dan akses jalan yang terputus membuat proses pencarian dan distribusi bantuan terhambat pada fase awal bencana.
Hingga kini, pencarian warga hilang dan proses evakuasi masih terus dilakukan. Tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI-Polri, dan pemerintah daerah terus dikerahkan untuk mempercepat penanganan darurat. Pemerintah juga tengah mengevaluasi kondisi lingkungan yang diperkirakan turut memperparah dampak bencana kali ini. (*)
